Berbahagialah Anda yang gemar mengonsumsi buah-buahan. Riset terbaru mengungkapkan bahwa mamakan buah secara rutin bisa membuat Anda terhindar dari penyakit alzheimer dan parkinson.
Seperti yang dikutip dari Daily Mail, ekstrak dari apel, jeruk dan pisang ternyata dapat mengurangi kerusakan pada neuron, sel sarah di otak dan tulang belakang. Para peneliti juga menemukan zat antioksidan yang terkandung dalam tiga buah tersebut mencegah racun di neuron saat Anda sedang mengalami stres."Apel yang tidak dikupas memiliki zat antioksidan yang tinggi, baru setelah itu jeruk dan pisang," ujar Profesor Chang Y Lee, yang memimpin penelitian tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Chang Y Lee dilatar belakangi oleh banyaknya pertanyaan mengenai manfaat lain dari apel, jeruk dan pisang. Oleh sebab itulah, ia dan tim penelitiannya melakukan beberapa riset tambahan.
"Banyak penelitian yang mengindikasi bahwa otak dari pasien alzheimer banyak mengalami peningkatan tekanan atau stres. Disfungsi yang terjadi diyakini akibat degenerasi saraf pada pasien tersebut. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa apel segar, pisang dan jeruk dan buah lainnya dapat melindungi sel-sel neuron. Buah memainkan peran penting dalam mengurangi gangguan neurodegenerative seperti penyakit Alzheimer," tutup Profesor Chang Y Lee.
Selengkapnya...
Rabu, 09 Maret 2011
Rutin Konsumsi Buah Jauhkan Risiko Terkena Alzheimer
ORANG BERPENDIDIKAN TINGGI CENDERUNG PANJANG UMUR..
Tahukah Anda bahwa menuntut ilmu dapat membantu Anda hidup lebih lama? Sebuah studi ungkapkan bahwa pendidikan dapat membuat seseorang lebih panjang umur.
Seperti yang dikutip dari Times of India, selain membuat panjang umur, belajar sungguh-sungguh di sekolah atau perguruan tinggi bisa mengurangi risiko terkena penyakit jantung. Menurut penelitian terbaru, pendidikan juga memiliki korelasi dengan tekanan darah, mengurangi konsumsi alkohol, rokok dan berat badan, .Penelitian tersebut diprakarsai oleh Framingham Offspring Study, melibatkan 3.890 orang dan membutuhkan waktu selama 30 tahun. Penelitian yang ditulis dalam jurnal BMC Public Health tersebut mencari adanya pengaruh tingkat pendidikan seseorang dengan status penyakit jantung.
"Bahkan ketika disesuaikan dengan variabel sosial-ekonomi, pendidikan memiliki korelasi sebaliknya dengan tekanan darah tinggi, "ujar Eric Loucks, pemimpin penelitian dari Brown University.
Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa pria berpendidikan yang menuntut ilmu lebih dari 17 tahun memiliki indeks massa tubuh (Body Mass Index-BMI) lebih rendah. Selain itu, pria tersebut mengurangi kebiasaan merokok, sedikit mengonsumsi alkohol, dan cenderung memiliki postur tubuh yang tinggi, berdasarkan pernyataan dari Brown University, Amerika.
Demikian juga dengan wanita yang berpendidikan, mereka tidak banyak merokok, memiliki BMI rendah namun minum lebih banyak dari saudara wanita mereka yang tidak berpendidikan (tapi tidak lebih banyak dari pria berpendidikan). Dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa tingkat akademis yang tinggi mengurangi risiko tekanan darah tinggi.
Selengkapnya...
Senin, 07 Maret 2011
Ponsel Canggih Bisa Deteksi Kanker
KOMPAS.com - Para peneliti yang berbasis di Amerika Serikat tengah mengembangkan suatu teknologi ponsel pintar yang dapat mendeteksi sel kanker. Tingkat akurasi sistem berbasis ponsel ini sudah hampir mencapai 100 persen dalam mendeteksi perbedaan tumor jinak dan ganas.
Laporan dalam Science Translational Medicine menunjukkan hasil diagnosis 100 persen akurat saat meneliti 20 pasien lain yang diperiksa. Sebagai perbandingan, tes patologi standar pada sampel serupa hanya mencapai tingkat akurasi antara 74 sampai 84 persen.
Ponsel tersebut bisa mengubah perawatan kanker serta mempermudah dokter melacak penyakitnya, sekaligus mengukur tingkat pengobatan yang akan diberikan kepada pasien untuk melawan penyakit degeneratif itu.
Perangkat yang dikembangkan di Massachusetts General Hospital, Boston, Amerika Serikat ini terdiri dari perangkat kecil, yang melalui ponsel pintar akan mendeteksi benjolan yang sering dikhawatirkan sebagai kanker. Perangkat ini terhubung ke mesin MRI yang berukuran mini pula.
Ralph Weissleder lah ilmuwan asal Massachusetts General Hospital, mengembangkan mesin yang disebut nuclear magnetic resonance (NMR), yang memungkinkan mengidentifikasi senyawa kimia dengan mengetahui reaksi mereka di medan magnet.
Peneliti lalu mengambil sampel sel dari benjolan mencurigakan yang terdapat di tubuh pasien, cukup dengan jarum tipis. Lalu magnet pada mesin genggam MRI itu merangsang molekul di dalam sampel sel. Semakin banyak molekul-molekul bergetar, ada kemungkinan itu sel-sel kanker. Dalam jangka satu jam saja dapat diketahui apakah benjolan mencurigakan di tubuh pasien merupakan kanker yang berbahaya atau jinak.
Tes kanker konvensional dilakukan oleh ahli ontologi. Langkahnya adalah dengan mengambil beberapa sel dari benjolan menggunakan jarum besar untuk kemudian dianalisis di laboratorium. Biasanya tes laboratorium semacam ini tidak memberikan kepastian dan tidak cukup efektif karena makan waktu berhari-hari.
Selengkapnya...